A Fun Business Community! Experience your Entrepreneurship, Leadership and Networking Journey with us!

Generasi Milenial jadi Gelandangan Tahun 2020?

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan pesan broadcast sebagai berikut:

KENAPA 95% GENERASI MILENIAL INDONESIA AKAN MENJADI GELANDANGAN pada TAHUN 2020?

Homeless Millenials. Kaum Milenial Gelandangan. Inilah mungkin sebuah julukan muram yang kelak layak ditabalkan pada anak-anak muda yang lahir antara 1982 – 1995.

Homeless millenials artinya adalah barisan anak muda (yang lahir antara 1982 – 1995) yang tak sanggup membeli rumah sendiri. Mungkin karena kondisi keuangan mereka yang termehek-mehek. Mungkin juga karena harga rumah yang makin melangit.

Bagi generasi milenial jaman NOW, memiliki rumah sendiri adalah sebuah impian yang pelan-pelan menjelma menjadi fatamorgana.

Faktanya, sebuah survei yang dilakukan oleh situs jual beli Rumah123 menyebut, 3 tahun dari sekarang hanya 5% generasi milenial yang akan sanggup membeli rumah secara mandiri. Sisanya 95% entah akan tinggal dimana.

Dalam Global Property Industry, dikenal adanya istilah House Price to Annual Income Ratio. Atau rasio harga rumah dibanding penghasilan tahunan Anda.

Menurut Global Property Standard, rasio yang ideal adalah maksimal 3 kali. Artinya harga rumah maksimal hanya boleh 3 x penghasilan tahunan Anda.

Contoh : penghasilan tahunan Anda (gaji selama 12 bulan + THR + bonus jika ada) adalah Rp 200 juta. Maka maksimal harga rumah yang boleh dibeli adalah Rp 600 juta.

Kita lihat di tanah air sekarang. Harga rumah ukuran 70M2 di Sumarecon Bekasi sudah tembus Rp 1,1 milyar.

Atau kita ambil harga rumah yang lebih murah, di wilayah yang lebih pedalaman, misal di Tambun. Harga untuk rumah dengan ukuran yang sama sudah sekitar Rp 600 jutaan.

Artinya untuk meraih rasio ideal 3x annual income, kalau mau membeli rumah dengan harga Rp 600 juta, minimal penghasilan tahunan adalah Rp 200 juta (atau sekitar Rp 16 juta per bulan).

Pertanyaannya : seberapa banyak generasi milenial Indonesia yang bisa mendapatkan annual income diatas Rp 200 juta?

Menurut survei Rumah123, generasi milenial Jakarta yang penghasilan tahunannya diatas Rp 200 juta (atau gajinya diatas 16 juta per hulan) hanya 4%.

4% saja. Busyet kecil amat angkanya.

Jadi mayoritas generasi milenial di Jakarta (dan mungkin kota besar lainnya) sebenarnya tidak memiliki gaji yang mewah. Pas-pasan saja.

Namun gaya hidupnya kadang sok mau kaya, dengan smartphone paling canggih, dan traveling kemana-mana biar punya foto Instagram yang cantik. Alamakkkk.

Oke, misal generasi Milenial yang sok kaya itu sudah insyaf dan kini rajin menabung, dan lalu ingin beli rumah dengan harga Rp 600 jutaan.

Maka generasi milenial tersebut harus sediakan DP 15% sekitar Rp 90 juta. Sisanya, Rp 510 juta diangsur.

Jika diangsur selama 15 tahun, maka cicilan rumah per bulan adalah sekitar Rp 6 jutaan per bulan. Banyak juga.

Dan sesuai prinsip dalam ilmu personal finance, cicilan hutang hanya boleh maksimal 30% dari total penghasilan.

Maka jika cicilan rumah adalah Rp 6 juta/bulan, gaji bulanan harus diatas Rp 18 juta.

Pertanyaannya kembali : berapa persen generasi milenial di Indonesia yang gajinya sudah diatas Rp 18 juta per bulan? Mungkin lebih sedikit lagi.

Itulah kenapa mayoritas generasi milenial Indonesia akan menjadi Homeless Millenials. Generasi Milenial Gelandangan yang tak punya rumah sendiri.

Apa yang bisa dilakukan untuk keluar dari jebakan Homeless Millenials? Ada 2 solusi.

Homeless Millenials Solution # 1 : RICH PARENT SUPPORT

Beruntunglah Anda generasi milenial yang memiliki orang tua yang relatif kaya.

Jika orang tua generasi milenial itu lumayan tajir, maka mereka bisa saja membelikan rumah kepada anak-anaknya.

Konon dulu ada prinsip di kalangan orang kaya jaman lama. Prinsipnya begini : saya harus punya rumah atau tanah minimal sama jumlahnya dengan jumlah anak saya. Kalau anak saya 5, ya minimal harus punya rumah atau kavling tanah 5 biji.

Saya suka dengan prinsip itu, dan terus terang ingin menirunya. Jadi kalau kita sudah berkeluarga dan punya anak 3, maka minimal kita harus punya 3 rumah (diluar rumah utama yang kita tempati). Mantap.

Cukup banyak juga orang tua generasi milenial yang bisa melakukan hal diatas. Maka beruntung jika Anda punya ayah atau orang tua yang bisa membelikan Anda rumah senilai Rp 600 juta.

Harapannya kelak Anda bisa melakukan hal serupa bagi anak-anak Anda.

Yang tragis : ayahnya makmur dan sanggup membelikan rumah. Namun anaknya, sang generasi milenial, malah nyungsep nasibnya. Alhasil rumah warisan itu akhirnya dijual untuk tambahan biaya hidup. Suram deh.

Memberi rumah ke anak memang baik, tp itu cenderung mendidik anak untuk tidak berjuang lebih baik lagi. Makanya harus diimbangi dengan didikan orang tua yg membuat anak-anaknya berjuang lebih keras dari orangtuanya. Kalau anaknya apa-apa diberikan oleh orangtua, kejadian suram diatas kemungkinan besar akan terjadi.

Homeless Millenials Solution # 2 : MULTIPLY YOUR INCOME

Solusi kedua ini adalah pilihan yang mutlak : cara terbaik agar sanggup membeli rumah seharga 600 juta atau bahkan 1M adalah ya lipat-gandakan income Anda.

Menaikkan income bukan hanya 10% per tahun. Tapi minimal harus 50% per tahun. (Sebab kenaikan harga rumah sekitar 15 s/d 20% per tahun).

Saya lebih suka konsep multiply your income. Bukan konsep menghemat uang.

Kadang sejumlah financial planner memberikan saran untuk menghemat uang dan penghasilan. Fine advice.

Namun berapa banyak yang bisa dihemat per bulan. Paling 1 jutaan.

Dan untuk menghemat 1 – 2 juta per bulan ini, korbannya adalah kita bisa makin stress mengelola pengeluaran. Kekuatan otak dan kreativitas kita telanjur habis terserap untuk mikir bagaimana caranya hemat.

Dan itu bahaya : sebab willpower dan kekuatan otak kita untuk berpikir kreatif melipatgandakan uang jadi lenyap.

Riset-riset dalam neuro-science menulis : kekuatan willpower dan otak kita itu terbatas (limited) – sehingga harus digunakan untuk hal-hal yang menjadi proritas kita.

Pilih mana :

1) willpower kita diserap habis untuk mikir caranya hemat 1 – 2 juta per bulan.

Atau

2) willpower kita diserap habis buat mikir bagaimana caranya income kita naik 10 juta atau bahkan 20 juta per bulan.

Saya selalu pilih yang 2, dan selama ini sudah mempraktekannya. Dan hasilnya sangat masif.

So, gunakan kekuatan otak dan willpower Anda agar tahun 2018 nanti, income Anda bisa naik 50%. Agar Anda bisa membeli rumah, bahkan dengan uang cash. Bukan lagi cicilan KPR. Top markotop.

Salah satu cara untuk meningkatkan penghasilan adalah ini : tambahkan revenue stream Anda.

Jangan hanya mengandalkan income hanya dari SATU sumber saja (misal hanya dari gaji bulanan).

Agar income Anda naik minimal 50%, maka Anda perlu menambah income stream – misal dengan menjalani usaha sampingan yang profitabel.

Akhir kata, homeless milennials adalah sebuah fenomena yang kelam dan pelan-pelan mungkin akan terjadi di negeri ini.

Pastikan Anda bukan salah satu homeless millenials itu.

Start doing creative and massive actions to MULTIPLY YOUR INCOME.

Sebab hanya dengan ini, Anda akan bisa beli rumah seharga Rp 3 milyar pada tahun 2020 nanti.

Salam Milenial,
Yodhia Antariksa

Saya sangat setuju dengan tulisan Yodhia Antariksa di atas. 

Memang beberapa orang berpendapat bahwa generasi milenial tidak membeli rumah karena kebanyakan mereka memiliki sifat praktis dan instan. Alih-alih membeli properti, mereka lebih suka sewa apartemen atau kos di dekat kantornya. Hal ini juga dipengaruhi faktor senangnya mereka pindah-pindah kerja. Generasi milenial bahkan dikenal juga sebagai generasi multi-tasking, bahkan banyak yang memiliki 2 bahkan 3 pekerjaan sekaligus. Passion? Mungkin saja… Namun jika Anda pikir ulang, jika bisa memilih, Anda pilih 2-3 pekerjaan atau dunia kerja yang fleksibel, bahkan kerja dari rumah?  

Kalau Anda suka dunia kerja yang lebih fleksibel, alias working from home, Anda sama dengan saya. Saya pun lebih memilih bekerja di rumah, bahkan di mall, atau dari smartphone saja, sehingga waktu kerja lebih fleksibel, dapat memulai lebih awal dan berhenti lebih awal, lebih produktif, beristirahat ketika merasa kurang sehat, dan dapat mengerjakannya sembari mengurus keluarga, rumah, hobi, dll. Apalagi kalau ada pemimpin yang memberikan kesempatan untuk meng-upgrade ilmu secara berkala, sehingga kapasitas diri akan terus meningkat. 

Salah satu alternatif yang saya suka adalah menjalankan bisnis jaringan di Biogreen Science. Banyak faktor yang menjadi dasar pilihan saya:

1. Fleksibilitas Waktu

Bisnis ini dapat dikerjakan secara online maupun offline, di mana pun Anda berada. Seorang partner bisnis saya di Singapura misalnya, seorang ibu rumah tangga yang menjalankan bisnis Biogreen-nya secara online saja dan telah memiliki jaringan lebih dari 1000 anggota, dan memiliki penghasilan di atas 100 juta rupiah per bulan. 

2. Penghasilan

Rata-rata yang mengerjakan bisnis Biogreen secara part time dapat menghasilkan tambahan penghasilan sekitar 100 juta rupiah per bulan dalam 1 tahun saja. Yang berhasil bukan sekedar puluhan orang, namun mencapai ratusan orang. Tentunya Anda dapat memiliki penghasilan jauh di atas 100 juta per bulan jika mengerjakan bisnis ini dengan lebih serius. 

3. Pengembangan Diri

Pebisnis Biogreen dilatih menjadi orang-orang yang positif, goal-oriented, sabar, tekun, pekerja keras, efektif, efisien, percaya diri, dan tulus membantu orang lain. Beberapa hal tadi bisa jadi bukan bawaan alami kita, namun akan semakin diasah dan dikembangkan saat menjalankan bisnis ini. Beberapa teman traveling yang saya kenal lebih dari lima tahun lalu, saat bertemu kembali cukup terkejut dengan perubahan yang terjadi pada diri saya. Ada yang mengatakan lima tahun lalu saya begitu pendiam dan pemalu, sekarang begitu ceria dan bersemangat.  Betul-betul tidak disangka! Saya yakin, Anda pun akan mengalami perubahan positif dengan bisnis ini. 

4. Program Mentoring dan Konsultasi Gratis

Untuk dapat diterima bekerja di kantor, biasanya perusahaan mensyaratkan pelamar kerja telah memiliki keterampilan tertentu, seperti mahir berbahasa Inggris, mahir berbahasa Mandarin, mahir mengoperasikan komputer, SAP, CRM, memiiki keterampilan komunikasi dan negosiasi yang baik, keterampilan menjual, tahan tekanan, dll., bahkan harus berpenampilan menarik. 

Menariknya di bisnis Biogreen, tidak ada ketentuan seperti di atas. Siapapun dengan latar belakang apapun dapat sukses menjalankan bisnis Biogreen. Ada mentor-mentor yang akan membantu mengajarkan para pebisnis baru untuk mengembangkan berbagai keterampilan yang dibutuhkan, dan semuanya diberikan dengan gratis. 

Saya secara pribadi banyak sekali terbantu dengan program mentoring dan konsultasi ini karena kebetulan pengalaman kerja saya sebelumnya hanya di dunia corporate, belum pernah berbisnis sendiri. Selain diajarkan bagaimana caranya berkembang dengan cepat di dunia bisnis ini, saya juga diajarkan bagaimana menginvestasikan penghasilan yang didapat. 

5. Apresiasi

Di bisnis Biogreen, ada acara tahunan dan tengah tahunan untuk mengapresiasi pencapaian para pebisnis yang berhasil. Selain penyematan pin sebagai tanda penghargaan, ada pula pembagian hasil keuntungan perusahaan secara global kepada para peraih prestasi. Ada pula program Trip Reward ke luar negeri dua kali setahun. 

6. Inovasi Tanpa Henti

Bisnis yang dapat terus berkembang dan berhasil adalah bisnis yang mampu berinovasi terus-menerus mengikuti trend dan permintaan pasar. Biogreen telah terbukti sebagai bisnis yang sejalan dengan trend dan permintaan pasar. Diawali dengan bisnis kesehatan dan anti-aging, kemudian berkembang sebagai bisnis lifestyle dengan diresmikannya KOTA Cinema Mall, dilanjut lagi di tahun ketiga dengan penambahan BioCloud Aurum*, bisnis penyewaan mesin tambang bitcoin yang tanpa batas negara dan mampu memberikan passive income bagi para pebisnisnya yang sibuk dengan pekerjaan/bisnisnya yang lain. 

Biocloud.png

*Hubungi kami untuk penjelasan lebih detail mengenai bisnis BioCloud Aurum

7. Komunitas/Lingkungan Positif

Di bisnis ini, semua yang menjalankannya dilatih dan dibentuk hingga menjadi orang-orang yang positif. Saat Anda berkumpul dengan orang-orang yang positif, Anda pun akan merasakan apa yang saya nikmati! Senang, bersemangat, termotivasi untuk mengejar impian, dan hal-hal positif akan berdatangan setiap hari. 

8. Kesempatan untuk Membantu Orang Lain

Dalam kurun waktu tiga setengah tahun sejak berdiri, Biogreen telah menjadi kendaraan modern & cepat yang mengubah taraf kehidupan ribuan orang di Indonesia. Seorang pebisnis Biogreen yang menjalankan bisnis ini satu hingga dua jam saja per hari, dalam kurun watu setahun rata-rata telah mencapai penghasilan 100 juta/bulan, dan telah membantu puluhan rekannya mencapai penghasilan puluhan juta rupiah per bulan. Bayangkan berapa banyak keluarga di Indonesia yang dapat Anda bantu dengan bisnis ini.

Selain itu, Biogreen telah mengalokasikan sebagian dari laba untuk charity, maka secara otomatis saat kita menjalankan bisnis ini, kita turut andil pula. 

9. Ekspansi Internasional

Di usianya yang kurang dari empat tahun, Biogreen telah memiliki country stockist di Malaysia, Filipina, dan Ghana. Jika Anda memiliki kerabat ataupun kawan di negara-negara tersebut, sudah mudah sekali untuk ekspansi bisnis Anda ke sana. Kalaupun  di negara-negara lainnya belum ada country stockist, Anda tetap bisa memulai bisnis Anda, malah siapa tahu justru country stokist negara tersebut ada di bawah jaringan Anda?

Anda termasuk generasi milenial juga? Yuk, cari tahu mengenai bisnis seru ini, dan kebagian juga serunya ekspansi ke mana-mana. Kalau kamu suka Traveling, bisnis ini  bisa kamu kerjakan sambil jalan-jalan dan tentunya tetap dapat penghasilan ratusan juta per bulan! Saya jelaskan via video call 15 menit, dan Anda putuskan sendiri ya.. Kalau suka, ayo kita kerjakan bersama. Mari hebatkan generasi kita, dan generasi pendahulu maupun penerus kita!

Tagged as: , , , , , ,

Leave a Reply

24 Hour Access

WA : 08 1212 99 6070 | LINE : onesynergy | Email : onesynergystudio@gmail.com
error: Alert: Content is protected !!
%d bloggers like this: